Dari minggu lalu kami kami sudah berencana untuk membeli mesin cuci baru. Maklum, mesin cuci lama sudah bertahun-tahun bekerja, dan rupanya sekarang adalah masa bagi dia untuk bertenang-tenang menikmati masa pensiun.
Minggu, jam 09.00 pagi, saya berangkat berombongan, sekalian jalan-jalan. Istri dan Baby saya yang baru genap setahun, beserta Sus nya ikut serta. Agendanya : Ke RS Siloam, untuk pijat (fisioterapi) Si Baby, kemudian beli mesin cuci dan buah untuk campuran maem si kecil. Pijatnya lancar. Antrian tidak banyak, dan Mbak yang memijatnya pinter melucu. Nilai 8+ untuk pijat baby disini. Relatif tidak mahal (35ribu sekali pijat), ruangan dan fasilitasnya bersih dan ber AC, para pemijatnya professional dan ramah-ramah… Kantinnya juga enak, mau ngupi sambil ngookies juga ada..…
Selesai pijat, kami meluncur ke UFO, salah satu toko elektronik besar di Sby. Tokonya cukup lengkap dan pilihan produknya banyak. Disinilah keanehan dimulai… setelah mengamati berbagai mesin cuci, dari yang harga 500 ribuan sampai belasan juta, serta mendengarakan promosi sang pramuniaga yang mendampingi, tibalah kami di depan mesin cuci Denpoo. “Ini mesin cuci yang bagus Pak, bodinya fiber, dan full automatic. Jaminan motornya 3 tahun..” katanya. Saya yang agak nggak ngeh manggut-manggut saja.”Denpoo ini spesialis mesin cuci dari Korea Pak, jadi dia nggak mengeluarkan produk lain selain mesin Cuci, lagi pula barang Korea biasanya lebih baik…..” sambungnya lagi.
Akhirnya, berkat promosi si pramuniaga serta setelah membandingkan dengan berbagai merk mesin cuci lain dengan budget 2 jutaan, saya pilih si Denpoo yang full automat ini. Setelah beberapa hari saya coba, si Denpoo ternyata cukup memuaskan. Hasil cucianya bersih, suaranya lembut/tidak berisik dan benar-benar otomatis. Tinggal masukkan baju, pencet tombol sekali, si Denpoo akan merendam, mengucek, membilas dan mengeringkan baju. Yang aneh justru keesokan harinya, ketika saya googling tentang Denpoo, ternyata berasal dari China, dan punya puluhan produk lain diluar mesin Cuci…!! Wahh.. rupanya saya ketemu Pramuniaga yang tulalit.. untung produknya bagus, jadi nggak ada acara komplain-komplainan…
Tulalit kedua, di Sinar supermarket, Rungkut. (sing Arek Suroboyo mesthi ngerti). Sambil nunggu istri belanja ini-itu, saya jalan-jalan. Kebetulan ada counter apotik yang jualan alat-alat medis. Karena pengin beli thermometer telinga untuk si Baby, saya tanya ke mas yang jaga. “Termometer telinga..? Oo nggak ada Pak, adanya thermometer biasa..” Jawab si Mas. Saya pun he-eh sambil melanjutkan melihat-lihat. Tapi, tunggu sebentar, lha itu ada thermometer telinga.., tepat dietalase dibawah tangan si Mas. “Lha itu ada Mas..” kata saya spontan. Si Masnya kaget, dan mengambil barang yang saya tunjuk, merknya Omron. “Oo ini termometer telinga to Pak..? Wee saya malah baru tahu…”
Halah.. emang dipikir apa mas..?. Mungkin sudah beberapa orang yang bernasib seperti saya, ada tapi dibilang nggak ada. Tentu saja si pemilik toko kehilangan kesempatan untuk dapat menjual barangnya, berkali-kali bila ternyata banyak produk yang tidak dipahami oleh si pramuniaga bukan hanya thermometer, tapi juga yang lain-lain. Ketika saya bertanya lebih lanjut tentang termomoter Omron tersebut, refillnya bisa beli dimana? Kalu rusak servis dimana? Si Mas banyak tidak tahunya. Akhirnya beliau minta nomor telepon dan alamat saya, dengan janji besok mau di hubungi.
Saya bertaruh dengan istri, bahwa Masnya tidak akan pernah menghubungi saya. Sejauh ini saya masih menang. Mungkin kertas catatan no telpon saya keselip entah kemana…
Mungkin anda pernah juga punya pengalaman serupa. Disatu sisi kita jengkel, namun buat saya perasaan iba lebih mendominasi. Lihat, bagaimana mereka mencoba untuk bekerja keras, tetapi tidak memperoleh pengetahuan yang cukup untuk bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik…
29 May, 2007 at 4:34 pm
Ndro, ini saya sudah chitchat-chitchat lagi..
29 May, 2007 at 5:39 pm
sip Do’… gaweo buku tamu ta, ben iso ninggal pesen… keep blogging
12 June, 2007 at 8:32 pm
Halo om bardo di surabaya mana nih, elektronik pokok gak di pasar demak, hartono juga bagus. hihihihih
Sby selatan, nek pasar demak malah blum pernah, kapan-kapan guh..