Saya tinggal di Surabaya, dan bekerja di sekitar Pandaan. Setiap kali berangkat dan pulang kerja, mau nggak mau harus melintas di Kuala Lumpurnya Indonesia: Porong, Sidoarjo. Sebenarnya ada alternatif lain, memutar melalui Mojosari / Mojokerto. Tetapi selain jaraknya jauh (+- 70 Km), truk-truk besar dan trailer sarat muatan banyak yang lewat jalur tersebut. Karena jalurnya tidak terlalu lebar mau nggak mau kita harus berjalan lambat di belakang truk dan trailer, yang berjalan sedikit lebih cepat daripada gerobak sapi. Pagi sebelum berangkat biasanya saya bercukur, tapi dengan kecepatan dan jarak tersebut, sampai di kantor jenggot saya sudah tumbuh lagi. Bleh…..
Alasan diatas, membuat saya memilih lewat di jalur asli ; dekat-dekat ke area lumpur. Jalan tol dan Jalan raya dari Surabaya menuju Pandaan sudah lama putus total. Jalur yang ada adalah melewati jalan desa dan gang disela-sela perumahan penduduk Porong yang belum atau baru sedikit terendam Lumpur. Jalurnya, bila anda pernah ke Sidoarjo setelah rel kereta api Tanggulangan, masuk gang ke kiri, melewati sekitar 3-4 Km jalan disela perumahan penduduk. Beberapa rumah sudah kosong ditinggalkan penghuninya. Mungkin mengungsi ke tempat lain. Coretan dinding berisi hujatan dan keluhan tentang bencana menghiasi tembok beberapa rumah kosong.
Setelah itu, jalan tanah ditengah sawah. Berlumpur-lumpur (lumpur sawah) berbatu-berbatu serta berlobang-lobang. Kalau ada kendaraan dari depan, salah satu harus minggir dulu, tapi jangan terlalu ke pinggir, kalau kecemplung sawah susah naiknya. Agak jauh kekanan adalah bendungan Lumpur (Lumpur Lapindo) kurang lebih setinggi pohon kelapa mengelilingi danau lumpur seluas beberapa desa. Ditengahnya, mengepul asap putih sampai ke langit, adalah pusat semburan Lumpur. Danau Lumpur terlihat tenang, permukaanya abu-abu keputihan. Asap tipis kadang mengepul dari permukaanya. Dibeberapa tempat muncul pucuk-pucuk pohon yang tenggelam dan kering terbakar. Ditempat lain,muncul sedikit puncak kubah masjid atau bubungan rumah yang sudah tenggelam. Pusat semburan agak sedikit bergolak,seperti air mendidih.
Setelah jalan ditengah sawah, masuk perumahan penduduk lagi, kemudian masuk ke bekas jalan tol yang dulu (sebelum bencana) sering saya lewati. Kondisinya sudah jauh berbeda. Tol sebelah kanan (jalur Malang-Surabaya) sudah hilang, berganti dengan timbunan tanah dan batu bendungan Lumpur. Ilalang dan semak liar tumbuh disana-sini. Beberapa pipa besar, mungkin untuk mengalirkan Lumpur atau gas Pertamina, setelah ledakan dipasang diatas permukaan. Dulunya pipa ini ditimbun tanah. Keluar pintu bekas tol, masuk ke jalan raya yang sudah bebas Lumpur..!!
Disepanjang jalan, sejak awal sampai akhir, ada lebih dari 32 titik (kalau gak salah itung) peminta sumbangan sukarela, mungkin untuk memperbaiki jalan yang saya “nyumbang” kerusakan karena lewat disitu. Biasanya saya kasih 200 atau 500an. Rata-rata 350an x 32 = 11.200 setiap kali lewat. Kalo kita nggak ngasih juga gak apa-apa , dada saja sambil bilang, sorry mas, kehabisan… mereka akan menawarkan jasa penukaran, beberapa titik dengan kurs yang sama, dan dititik lain dengan kurs 10.000/8.000… lagi-lagi blehhhh…
Untuk perjalanan itu, saya ambil positifnya saja : belajar off road sambil beramal…
Regards,
Bardo
4 May, 2007 at 10:26 am
lapindo dimana tanggungjawabmu???
28 May, 2007 at 8:20 pm
endhi corat-corete… salak keceret-ceret ki
18 June, 2007 at 3:20 pm
Ini toh critanya, makanya bisa 1 jam surabaya pandaan… Nanti kalo lebaran saya pulang kampung, ajarin ya Do, secara saya dijemput di Juanda dan masih menuju probolinggo, kalo harus bermacet-macet bersama si cantikku yang ndut itu… mana tahan…. pasti rewl deh dia…
info penting niy… thanks ya…
1 jam kalo lancar vit, klao lagi ada demo, bisa 1.5 hari..Tar klo d Sby lagi kontak yah..