Bila menghadiri acara semacam reuni, gathering atau undangan lain, hal yang menarik buat saya adalah : Makanan gratis dan kejutan ketika bertemu orang-orang tak terduga (misalnya, teman sekampung, teman chatting, atau orang semacam Ibu yang satu ini).

19 April 2007, saya menghadiri sebuah undangan gathering, disamping makan siang gratis, panitia juga mengundang Rhenald Kasali sebagai pembicara. Berhubung belum pernah ikut forum beliau secara live, forum ini adalah kesempatan pertama saya.
Acaranya mengesankan; Tempatnya bagus, makananya enak, panitianya cakep-cakep, dan Pak Rhenald Kasali luar biasa…
Pak Rhenald bicara tentang Perubahan (Change). (link ke blognya Raditya, thanks Raditya..!!) Seperti sebuah idom “ Didunia ini semua hal berubah. Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan” atau idiom yang lain “Berubah atau mati..!!”
Beliau mengawalinya dengan beberapa contoh, perusahaan yang berubah dan tidak berubah. Dari sini saya baru tahu bahwa NOKIA dulunya adalah pembuat sepatu..!! Sepatoe koelit boeaya tjap NOKIA… halah….

Dari pembukaan beliau saja, saya sudah yakin bahwa makhluk sosial yang tidak berubah akan tertinggal oleh peradaban dan lama-lama akan mengabur dan lenyap dari peredaran, dalam jangka waktu yang semakin lama-semakin pendek, karena perubahan datang semakin cepat…
Saya tidak akan menulis panjang lebar tentang presentasi beliau, tapi saya kutip sedikit yang ada kaitanya dengan blog. Dalam presentasinya, Pak Rhenald memutarkan potongan sebuah film. Saya nggak tahu judulnya (ada yg bisa bantu?), dalam film tersebut Julia Roberts berperan sbg dosen baru yang kewalahan karena mahasiswanya sangat-sangat aktif, mulai dari mematikan lampu (ketika sang dosen akan memutar slide), menanyakan nama si dosen baru, berkomentar dan mengajukan pertanyaan. Mungkin di Indonesia, kalau ada mahasiswa atau siswa sekolah bersikap seperti dalam film tersebut, akan dibilang kurang ajar atau ditempel stiker BANDEL di jidat.

Dalam perspektif Pak RK, sikap yang ditunjukkan para mahasiswa tsb adalah Extrovertness, atau kemampuan untuk mengungkapkan isi kepala. Ini yang jarang dipunyai oleh SDM asal Indonesia, karena murid dan siswa di Indonesia dibiasakan untuk duduk, diam, patuh dan mendengarkan apa kata guru. Unsur E (extrovertness) ini, adalah salah satu unsur DNA yang harus ada agar sukses dalam membuat perubahan, disamping unsure-unsur yang lain (OCEAN, O: Opennes to Experience, C: Conscientiousness, E: Extrovertness, A: Agreeableness, N: Neuroticism.)
Istri saya bilang, kemampuan untuk mengeluarkan isi kepala bukan extrovert, tapi asertif. Okelah, saya gak mau berdebat ttg hal itu, banyak kalahnya. Doi belajar psikologi, sementara saya tidak, he..he..

Tingkat extrovertness (atau asertif..?) inilah yang juga sangat saya perlukan. Semasa sekolah, saya termasuk pendiam, malu bertanya dan takut berkomentar, sebenarnya takut gurunya marah atau diejek teman kalau komentarnya tulalit. Mungkin hal itu terbawa sampai sekarang. Untung ada blog, jadi saya bisa berlatih menumpahkan isi kepala, tanpa harus takut ada yang marah…

Thanks blog….!
Regards,

Bardo