April 2007


Saya tinggal di Surabaya, dan bekerja di sekitar Pandaan. Setiap kali berangkat dan pulang kerja, mau nggak mau harus melintas di Kuala Lumpurnya Indonesia: Porong, Sidoarjo. Sebenarnya ada alternatif lain, memutar melalui Mojosari / Mojokerto. Tetapi selain jaraknya jauh (+- 70 Km), truk-truk besar dan trailer sarat muatan banyak yang lewat jalur tersebut. Karena jalurnya tidak terlalu lebar mau nggak mau kita harus berjalan lambat di belakang truk dan trailer, yang berjalan sedikit lebih cepat daripada gerobak sapi. Pagi sebelum berangkat biasanya saya bercukur, tapi dengan kecepatan dan jarak tersebut, sampai di kantor jenggot saya sudah tumbuh lagi. Bleh…..

Alasan diatas, membuat saya memilih lewat di jalur asli ; dekat-dekat ke area lumpur. Jalan tol dan Jalan raya dari Surabaya menuju Pandaan sudah lama putus total. Jalur yang ada adalah melewati jalan desa dan gang disela-sela perumahan penduduk Porong yang belum atau baru sedikit terendam Lumpur. Jalurnya, bila anda pernah ke Sidoarjo setelah rel kereta api Tanggulangan,  masuk gang ke kiri, melewati sekitar 3-4 Km jalan disela perumahan penduduk. Beberapa rumah sudah kosong ditinggalkan penghuninya. Mungkin mengungsi ke tempat lain. Coretan dinding berisi hujatan dan keluhan tentang bencana menghiasi tembok beberapa rumah kosong.

Setelah itu, jalan tanah ditengah sawah. Berlumpur-lumpur (lumpur sawah) berbatu-berbatu serta berlobang-lobang. Kalau ada kendaraan dari depan, salah satu harus minggir dulu, tapi jangan terlalu ke pinggir, kalau kecemplung sawah susah naiknya.  Agak jauh kekanan adalah bendungan Lumpur (Lumpur Lapindo) kurang lebih setinggi pohon kelapa mengelilingi danau lumpur seluas beberapa desa. Ditengahnya, mengepul asap putih sampai ke langit, adalah pusat semburan Lumpur.  Danau Lumpur terlihat tenang, permukaanya abu-abu keputihan. Asap tipis kadang mengepul dari permukaanya. Dibeberapa tempat muncul pucuk-pucuk pohon yang tenggelam dan kering terbakar. Ditempat lain,muncul sedikit puncak kubah masjid atau bubungan rumah yang sudah tenggelam. Pusat semburan agak sedikit bergolak,seperti air mendidih.

Setelah jalan ditengah sawah, masuk perumahan penduduk lagi, kemudian masuk ke bekas jalan tol yang dulu (sebelum bencana) sering saya lewati. Kondisinya sudah jauh berbeda. Tol sebelah kanan (jalur Malang-Surabaya) sudah hilang, berganti dengan timbunan tanah dan batu bendungan Lumpur. Ilalang dan semak liar tumbuh disana-sini. Beberapa pipa besar, mungkin untuk mengalirkan Lumpur atau gas Pertamina, setelah ledakan dipasang diatas permukaan. Dulunya pipa ini ditimbun tanah. Keluar pintu bekas tol, masuk ke jalan raya yang sudah bebas Lumpur..!!

Disepanjang jalan, sejak awal sampai akhir, ada lebih dari 32 titik (kalau gak salah itung) peminta sumbangan sukarela, mungkin untuk memperbaiki jalan yang saya “nyumbang” kerusakan karena lewat disitu. Biasanya saya kasih 200 atau 500an. Rata-rata 350an x 32 = 11.200 setiap kali lewat. Kalo kita nggak ngasih juga gak apa-apa , dada saja sambil bilang, sorry mas, kehabisan… mereka akan menawarkan jasa penukaran, beberapa titik dengan kurs yang sama, dan dititik lain dengan kurs 10.000/8.000… lagi-lagi blehhhh…

Untuk perjalanan itu, saya ambil positifnya saja : belajar off road sambil beramal…

 

Regards,

 

Bardo

 Bila menghadiri acara semacam reuni, gathering atau undangan lain, hal yang menarik buat saya adalah : Makanan gratis dan kejutan ketika bertemu orang-orang tak terduga (misalnya, teman sekampung, teman chatting, atau orang semacam Ibu yang satu ini).

19 April 2007, saya menghadiri sebuah undangan gathering, disamping makan siang gratis, panitia juga mengundang Rhenald Kasali sebagai pembicara. Berhubung belum pernah ikut forum beliau secara live, forum ini adalah kesempatan pertama saya.
Acaranya mengesankan; Tempatnya bagus, makananya enak, panitianya cakep-cakep, dan Pak Rhenald Kasali luar biasa…
Pak Rhenald bicara tentang Perubahan (Change). (link ke blognya Raditya, thanks Raditya..!!) Seperti sebuah idom “ Didunia ini semua hal berubah. Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan” atau idiom yang lain “Berubah atau mati..!!”
Beliau mengawalinya dengan beberapa contoh, perusahaan yang berubah dan tidak berubah. Dari sini saya baru tahu bahwa NOKIA dulunya adalah pembuat sepatu..!! Sepatoe koelit boeaya tjap NOKIA… halah….

Dari pembukaan beliau saja, saya sudah yakin bahwa makhluk sosial yang tidak berubah akan tertinggal oleh peradaban dan lama-lama akan mengabur dan lenyap dari peredaran, dalam jangka waktu yang semakin lama-semakin pendek, karena perubahan datang semakin cepat…
Saya tidak akan menulis panjang lebar tentang presentasi beliau, tapi saya kutip sedikit yang ada kaitanya dengan blog. Dalam presentasinya, Pak Rhenald memutarkan potongan sebuah film. Saya nggak tahu judulnya (ada yg bisa bantu?), dalam film tersebut Julia Roberts berperan sbg dosen baru yang kewalahan karena mahasiswanya sangat-sangat aktif, mulai dari mematikan lampu (ketika sang dosen akan memutar slide), menanyakan nama si dosen baru, berkomentar dan mengajukan pertanyaan. Mungkin di Indonesia, kalau ada mahasiswa atau siswa sekolah bersikap seperti dalam film tersebut, akan dibilang kurang ajar atau ditempel stiker BANDEL di jidat.

Dalam perspektif Pak RK, sikap yang ditunjukkan para mahasiswa tsb adalah Extrovertness, atau kemampuan untuk mengungkapkan isi kepala. Ini yang jarang dipunyai oleh SDM asal Indonesia, karena murid dan siswa di Indonesia dibiasakan untuk duduk, diam, patuh dan mendengarkan apa kata guru. Unsur E (extrovertness) ini, adalah salah satu unsur DNA yang harus ada agar sukses dalam membuat perubahan, disamping unsure-unsur yang lain (OCEAN, O: Opennes to Experience, C: Conscientiousness, E: Extrovertness, A: Agreeableness, N: Neuroticism.)
Istri saya bilang, kemampuan untuk mengeluarkan isi kepala bukan extrovert, tapi asertif. Okelah, saya gak mau berdebat ttg hal itu, banyak kalahnya. Doi belajar psikologi, sementara saya tidak, he..he..

Tingkat extrovertness (atau asertif..?) inilah yang juga sangat saya perlukan. Semasa sekolah, saya termasuk pendiam, malu bertanya dan takut berkomentar, sebenarnya takut gurunya marah atau diejek teman kalau komentarnya tulalit. Mungkin hal itu terbawa sampai sekarang. Untung ada blog, jadi saya bisa berlatih menumpahkan isi kepala, tanpa harus takut ada yang marah…

Thanks blog….!
Regards,

Bardo

Hidup memang tidak mudah. Sebagai contoh, mengawali sebuah blog sangat mudah, untuk  menjaganya tetap hidup..? saya mengalami kesulitan setelah posting pertama.. he..he….

 

1 comment sudah masuk, dari Priyadi (Ya, Priyadi yang itu..!! Thanks Pri ™), membuat saya semakin tertantang untuk membuat blog ini tetap hidup. Malu donk, dah dikasih comment trus gak lanjut… Tapi, apa yang harus saya tulis selanjutnya..?

 

Semakin saya berpikir, semakin saya bingung. Tak lama saya dapat ide, ya udah tulis aja apa yang lagi saya pikir…gak usah muluk-muluk. Toh ini blog saya sendiri, mau nulis apa juga silahkan. Recycle bin of my brain…..

 

Jadilah ini tulisan kedua, seadanya saja yang penting keep posting…

 

Regards,

 

Bardo

Berawal dari kesukaan saya browsing diinternet, “berlangganan” beberapa blog, menjadi tertarik dan akhirnya mencoba membuat blog sendiri.

Dua blog yang menurut saya paling menarik dan membuat saya akhirnya ikut ngeblog adalah blognya Priyadi   dan Lapanpuluhan.

Membaca tulisan-tulisan Priyadi, mengingatkan  betapa sebuah blog dapat menjadi sumber wawasan baru tentang betapa kompleksnya lingkungan bumi kita. Hal-hal baru terus bermunculan disana, dan Priyadi membahasnya dengan cara yang amat memikat, tentang berbagai hal yang bahkan kadang tidak berhubungan dengan bidang yang digelutinya. Bagaimana seseorang bisa mengetahui begitu banyak hal..? Menurut saya, salah satunya karena blog…!!

Pada era tahun 80an, saya masih kecil, 1980 saya masuk TK. Tapi kenangan masa kecil melekat erat diotak, tentang musik, trend, acara-acara TV (Si Unyil, Ria Jenaka, Aneka Ria Safari, Bonanza, He Man, Apresiasi Film Nasional, Film Cerita Akhir Pekan dll ) dan kegiatan-kegiatan menggembirakan yang saya lakukan waktu itu.  Mungkin anda juga punya kenangan semacam itu. Membaca blog lapanpuluhan  serasa membawa saya kembali ke masa-masa itu, dan akhirnya saya benar-benar terbawa…. untuk ngeblog..!!

 So, inilah tulisan pertama saya, di blog pertama….

 Salam,

Bardo